Seekor Komodo Ditemukan Mati, Diduga Ditabrak Kendaraan di Golo Mori Labuan Bajo – Keindahan alam sekitar Golo Mori di Kabupaten Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), selama ini dikenal sebagai habitat alami bagi satwa langka dan dilindungi yaitu Komodo ( Varanus komodoensis ). Namun baru-baru ini, masyarakat disuguhkan sebuah kabar duka: sebuah individu komodo ditemukan mati di pinggir jalan, diduga menjadi korban kecelakaan kendaraan. Peristiwa ini memicu keprihatinan sekaligus peringatan serius mengenai interaksi antara manusia, mobilitas modern, dan satwa liar endemik.
Kronologi Penemuan
Menurut laporan media, thailand slot bangkai komodo ditemukan di pinggir jalan yang menghubungkan Kampung Kenari menuju Golo Mori, sekitar Kilometer 16 jalur tersebut. Informasi awal disebarkan lewat unggahan akun Facebook milik warga bernama Engel Tani yang saat itu melintas di lokasi. Warga tersebut bersama rekannya memindahkan bangkai ke pinggir jalan agar tidak mengganggu lalu lintas dan menghindari kerusakan lebih lanjut pada tubuh hewan.
Petugas dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam NTT (BBKSDA NTT) dan Resort di Labuan Bajo segera melakukan evakuasi pada 19 Oktober 2025 setelah laporan di terima. Sebelumnya, di temukan luka-benturan pada tubuh satwa yang posisinya berada di jalur kendaraan, yang menambah kuat dugaan bahwa kematian di sebabkan oleh tertabrak kendaraan.
Data Satwa dan Penanganan
Hasil pengukuran tim petugas menunjukkan bonus new member bahwa komodo yang di temukan tersebut memiliki panjang tubuh sekitar 150 cm, panjang kepala 12 cm, dan panjang ekor 92 cm. Satwa tersebut di duga jantan dan masih berusia remaja. Setelah di lakukan dokumentasi morfologi, bangkai komodo kemudian di kuburkan secara layak di halaman kantor resort sesuai prosedur penanganan bangkai satwa di lindungi.
Analisis Dugaan Penyebab dan Konteks Habitat
Pihak BBKSDA NTT menyebut bahwa lokasi temuan memang berada di jalur yang di ketahui sebagai jalur lintasan alami komodo. Satwa ini kerap bergerak melewati area terbuka, termasuk ruas jalan yang berbatasan dengan hutan atau semak. Kondisi ini di perparah oleh meningkatnya mobilitas manusia serta pembangunan infrastruktur yang memasuki atau berada di dekat kawasan habitat.
Dengan demikian, dugaan bahwa komodo mati akibat tertabrak kendaraan mendapatkan dukungan dari bukti luka benturan. Namun, tidak di sebutkan secara pasti jenis kendaraan atau kecepatan yang menyebabkan peristiwa tersebut sehingga masih sebagai “dugaan kuat”.
Dampak terhadap Pelestarian Komodo
Peristiwa ini memiliki implikasi serius dalam konteks pelestarian komodo sebagai spesies langka dan endemik Indonesia. Satwa ini tidak hanya menjadi kebanggaan nasional, tetapi juga daya tarik utama bagi pariwisata di Labuan Bajo dan sekitarnya. Kematian satu individu, meskipun remaja, tetap menjadi kerugian bagi populasi yang rentan terhadap berbagai tekanan termasuk perburuan.
Kejadian ini juga menunjukkan bahwa aspek “pertemuan manusia dengan satwa liar” harus di atur dengan lebih baik bukan hanya dalam konteks wisata. Rambu peringatan “satwa menyeberang”, pembatas kecepatan kendaraan, dan edukasi kepada masyarakat pengguna jalan adalah beberapa langkah mitigasi yang di sarankan.
Imbauan kepada Masyarakat dan Pengguna Jalan
Petugas konservasi telah menyampaikan imbauan kepada masyarakat dan pengguna jalan agar berhati-hati saat melintasi ruas jalan di kawasan habitat komodo. Terutama pada malam hari atau saat kondisi suhu berubah karena satwa tersebut bisa berpindah secara tiba-tiba.
Masyarakat di imbau untuk melaporkan segera temuan satwa mati atau terluka di jalanan agar tindakan evakuasi dapat di lakukan. Respons cepat warga melalui media sosial juga di apresiasi sebagai bagian penting dari sistem pelestarian bersama.